Ketika Ikan Lokal Menjadi Inspirasi Inovasi Farmasi
Apa yang biasanya terlintas ketika mendengar nama ikan hulu’u? Bagi masyarakat Gorontalo, ikan ini bukanlah sesuatu yang asing. Namun, di balik keberadaannya sebagai sumber daya perairan lokal, tersimpan peluang yang menarik untuk dikembangkan dalam bidang farmasi.
Ikan hulu’u dengan nama ilmiah Giuris margaritacea merupakan ikan air tawar yang ditemukan antara lain di Danau Limboto, Gorontalo. Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya potensi biologis pada ikan ini, termasuk keberadaan protein dan aktivitas bioaktif pada mucus-nya. Potensi tersebut kemudian membuka pertanyaan baru: bisakah protein dari ikan hulu’u dikembangkan menjadi suatu bentuk sediaan farmasi yang praktis dan mudah digunakan?
Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal penelitian Nur Alifia Karina Munafri melalui skripsinya berjudul “Formulasi dan Karakterisasi Spray Gel Ekstrak Ikan Hulu’u (Giuris margaritacea)”.
Dari Bahan Lokal ke Laboratorium Farmasi
Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental laboratorium. Daging ikan hulu’u diproses melalui ekstraksi menggunakan pemanasan dengan water bath pada suhu 56°C selama 10 menit. Ekstrak yang diperoleh kemudian dikonfirmasi keberadaan proteinnya menggunakan uji Biuret.
Hasilnya cukup menarik. Ekstrak ikan hulu’u menunjukkan perubahan warna menjadi ungu pada uji Biuret yang menandakan adanya protein. Temuan ini menjadi dasar untuk melanjutkan pengembangan ekstrak ke dalam bentuk sediaan topikal.
Mengapa Spray Gel?
Dalam pengembangan produk topikal, bentuk sediaan menjadi salah satu faktor penting. Gel dikenal mudah diaplikasikan pada kulit, sedangkan sistem semprot menawarkan kepraktisan dan mengurangi kebutuhan kontak langsung antara tangan dan area aplikasi.
Spray gel mencoba menggabungkan kedua keunggulan tersebut. Sediaan ini dapat disemprotkan pada permukaan kulit, kemudian membentuk lapisan gel yang melekat pada permukaan.
Penelitian ini menggunakan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) sebagai gelling agent. Tiga konsentrasi HPMC, yaitu 0,1%, 0,3%, dan 0,5%, dibandingkan untuk menemukan basis yang paling sesuai.
HPMC 0,3%: Titik Keseimbangan yang Menarik
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perbedaan karakteristik pada setiap konsentrasi HPMC. HPMC 0,1% menghasilkan viskositas 26 mPas, HPMC 0,3% sebesar 167 mPas, sedangkan HPMC 0,5% mencapai 657 mPas.
Semakin tinggi konsentrasi HPMC, semakin kental sediaan dan semakin lama waktu pengeringannya. Berdasarkan berbagai parameter tersebut, HPMC 0,3% dipilih sebagai basis optimum karena memberikan keseimbangan antara kekentalan, waktu kering, kemampuan melekat, dan kemampuan disemprotkan.
Tiga Formula, Satu Formula Unggulan
Setelah basis optimum diperoleh, ekstrak ikan hulu’u dimasukkan dalam tiga konsentrasi, yaitu F1 10%, F2 15%, dan F3 30%. Selanjutnya, seluruh formula diuji berdasarkan karakteristik fisik, keberadaan protein, profil gugus fungsi, sifat termal, serta kestabilannya terhadap kondisi suhu ekstrem.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik yang cukup baik. Formula-formula tersebut bersifat homogen, dapat melekat pada kulit, dan memiliki pola serta bobot penyemprotan yang relatif seragam.
Dari ketiga formula, F3 dengan ekstrak 30% ditetapkan sebagai formula terbaik. Formula ini memiliki viskositas lebih tinggi tetapi masih dapat disemprotkan dengan baik, serta menghasilkan lapisan gel yang lebih lama mengering sehingga berpotensi memberikan lapisan protektif pada permukaan kulit.
FTIR Mengungkap Jejak Protein
Untuk melihat karakteristik kimia sediaan, penelitian menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy atau FTIR.
Pada formula F3 ditemukan pita serapan pada 3291,62 cm⁻¹ (Amida A), 1637,17 cm⁻¹ (Amida I), dan 1234,16 cm⁻¹ (Amida III). Keberadaan pita tersebut mendukung adanya struktur protein dalam sediaan.
Yang tidak kalah penting, hasil analisis tidak menunjukkan adanya perubahan struktur kimia baru yang signifikan akibat formulasi. Dengan kata lain, komponen protein masih dapat terdeteksi setelah dimasukkan ke dalam sistem spray gel.
Bagaimana dengan Stabilitasnya?
Produk farmasi tidak cukup hanya terlihat baik saat pertama kali dibuat. Produk juga harus mampu mempertahankan karakteristiknya ketika menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Karena itu, penelitian ini menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC) dan stress stability test. Analisis DSC menunjukkan beberapa peristiwa termal pada 70,00°C, 90,51°C, 103,92°C, serta puncak eksotermik kecil pada 167,95°C. Hasil tersebut tidak menunjukkan adanya degradasi termal yang berarti pada formulasi.
Pada uji stress stability dengan variasi suhu 2–80°C, sediaan tetap menunjukkan kestabilan fisik dengan rentang pH 7,22–7,56 dan viskositas 158–218 mPas.
Dari Danau Limboto untuk Inovasi Kesehatan
Penelitian ini memperlihatkan sebuah gagasan penting: sumber daya lokal tidak hanya dapat dilihat sebagai komoditas pangan, tetapi juga dapat menjadi inspirasi pengembangan produk farmasi.
Ikan hulu’u yang selama ini dikenal sebagai bagian dari sumber daya perairan Gorontalo mulai diperkenalkan melalui perspektif berbeda—sebagai sumber bahan alam yang dapat diteliti dan dikembangkan menjadi kandidat bahan aktif dalam sediaan topikal.
Namun, hasil penelitian ini perlu ditempatkan secara proporsional. Penelitian telah menunjukkan keberhasilan formulasi dan karakterisasi spray gel, tetapi belum membuktikan efektivitas klinisnya sebagai obat penyembuh luka. Tahap berikutnya masih diperlukan, antara lain pengujian pelepasan zat aktif menggunakan metode difusi Franz serta studi stabilitas jangka panjang.
Sebuah Langkah Awal Menuju Farmasi Berbasis Bahan Alam
Inovasi tidak selalu harus dimulai dari bahan yang jauh dan mahal. Kadang, jawabannya justru berada di sekitar kita.
Melalui penelitian Nur Alifia Karina Munafri, ikan hulu’u dari Gorontalo mendapatkan perspektif baru dalam dunia farmasi. Formulasi spray gel berbasis ekstraknya menunjukkan karakteristik fisik dan fisikokimia yang menjanjikan, dengan HPMC 0,3% sebagai basis optimum dan formula ekstrak 30% sebagai formula terbaik dalam penelitian ini.
Temuan tersebut menjadi langkah awal untuk menggali lebih jauh potensi bahan alam lokal, sekaligus membuka peluang pengembangan inovasi farmasi yang berangkat dari kekayaan hayati daerah.
Dari perairan Gorontalo, sebuah inovasi kecil dapat menjadi awal bagi perjalanan panjang menuju teknologi farmasi berbasis sumber daya lokal.