Mengapa menggunakan liposom?
Liposom merupakan vesikel yang tersusun dari lapisan lipid dan memiliki kemampuan untuk mengenkapsulasi berbagai jenis bahan aktif. Dalam penelitian ini, kolagen dimasukkan ke dalam sistem liposom menggunakan metode injeksi etanol.
Setelah proses formulasi, liposom kolagen kemudian dikarakterisasi untuk mengetahui apakah sistem yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai. Parameter yang diperiksa meliputi ukuran partikel, Polydispersity Index (PDI), dan efisiensi penjerapan atau Entrapment Efficiency (EE).
Hasilnya cukup menarik. Tiga formula yang dikembangkan menghasilkan ukuran partikel rata-rata masing-masing 151 nm, 205,5 nm, dan 257,5 nm. Nilai PDI yang diperoleh adalah 0,155; 0,21; dan 0,275. Nilai PDI yang berada di bawah 0,3 menunjukkan distribusi ukuran partikel yang relatif sempit dan homogen.
Artinya, sistem liposom yang dibuat dalam penelitian ini berhasil berada pada skala nanometer dengan distribusi ukuran yang relatif seragam.
Kolagen berhasil terenkapsulasi dengan baik
Selain ukuran partikel, peneliti juga melihat seberapa banyak kolagen yang berhasil dimasukkan ke dalam vesikel liposom. Pengujian dilakukan melalui analisis spektrofotometri UV-Vis terhadap kolagen bebas yang tidak terenkapsulasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi penjerapan pada ketiga formula berada pada rentang 87,20–95,15%. Formula 1 menghasilkan efisiensi penjerapan 87,20%, Formula 2 sebesar 93,41%, sedangkan Formula 3 mencapai 95,15%.
Angka tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar kolagen yang digunakan berhasil terenkapsulasi dalam sistem liposom. Formula 3 menjadi formula dengan kemampuan penjerapan paling tinggi berdasarkan hasil penelitian.
Dari liposom menjadi krim
Liposom yang telah dibuat selanjutnya dikembangkan menjadi bentuk sediaan yang lebih praktis untuk penggunaan pada kulit, yaitu krim.
Tiga formula krim yang dihasilkan memiliki warna putih, bau khas krim, dan tekstur semipadat. Selama pengamatan, tidak ditemukan perubahan warna maupun bau yang berarti. Ketiga formula juga menunjukkan homogenitas yang baik dan tidak memperlihatkan adanya butiran kasar atau pemisahan fase.
Karakteristik tersebut penting karena suatu produk topikal tidak hanya dituntut mengandung bahan aktif, tetapi juga harus memiliki karakteristik fisik yang mendukung kenyamanan dan kualitas penggunaannya.
Bagaimana dengan pH dan kemampuan menyebar?
Salah satu aspek penting dalam formulasi produk yang digunakan pada kulit adalah kesesuaian pH. Dalam penelitian ini, nilai pH pada awal pengujian berada pada 6,0–6,2, sedangkan setelah pengujian menjadi 6,3–6,5 pada ketiga formula. Hasil tersebut masih berada pada rentang yang digunakan peneliti sebagai acuan untuk sediaan topikal.
Kemampuan krim untuk menyebar juga menjadi perhatian. Ketiga formula menunjukkan daya sebar sekitar 5,0–5,5 cm, yang dalam penelitian dinilai memenuhi kriteria daya sebar krim yang baik.
Sementara itu, daya lekat menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Formula 1 meningkat dari 30,40 detik menjadi 32,75 detik, Formula 2 dari 32,10 detik menjadi 34 detik, dan Formula 3 dari 40,25 detik menjadi 43 detik setelah pengujian.
Dari sisi viskositas, seluruh formula juga berada dalam rentang yang dinilai memenuhi persyaratan berdasarkan acuan yang digunakan dalam penelitian. Nilai viskositas meningkat setelah pengujian Freeze–Thaw, yaitu dari 8.056 menjadi 9.680 cP pada F1, 9.568 menjadi 10.640 cP pada F2, dan 11.055 menjadi 14.000 cP pada F3.
Diuji dalam kondisi perubahan suhu ekstrem
Pertanyaan penting berikutnya adalah: apakah krim tetap stabil ketika menghadapi perubahan suhu?
Untuk menjawabnya, peneliti menggunakan metode Freeze–Thaw selama 14 hari atau tujuh siklus. Sediaan mengalami pergantian kondisi suhu rendah dan suhu tinggi menggunakan climatic chamber. Pengamatan dilakukan terhadap organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa ketiga formula tidak mengalami pemisahan fase maupun perubahan tekstur yang signifikan. Beberapa parameter memang mengalami perubahan nilai selama pengujian, terutama viskositas, daya sebar, dan daya lekat, tetapi perubahan tersebut masih berada dalam rentang yang diterima berdasarkan kriteria penelitian.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa formulasi krim berbasis liposom kolagen yang dikembangkan memiliki stabilitas fisik yang baik terhadap siklus perubahan suhu yang dilakukan dalam penelitian.
Menjanjikan, tetapi masih membutuhkan penelitian lanjutan
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa teknologi liposom dapat menjadi salah satu pendekatan dalam pengembangan sediaan topikal berbasis kolagen. Liposom kolagen yang dihasilkan memiliki ukuran partikel nanometer, distribusi ukuran relatif homogen, serta efisiensi penjerapan yang tinggi. Setelah diformulasikan menjadi krim, sediaan juga menunjukkan karakteristik fisik dan stabilitas yang baik berdasarkan parameter yang diuji.
Namun demikian, hasil tersebut belum dapat diartikan bahwa krim tersebut telah terbukti efektif sebagai produk anti-aging pada manusia. Penelitian yang dilakukan berfokus pada formulasi, karakterisasi, evaluasi fisik, dan stabilitas sediaan.
Peneliti sendiri merekomendasikan penelitian lanjutan berupa pengujian efektivitas anti-aging secara in vivo, antara lain melalui pengukuran elastisitas, hidrasi, dan kerutan kulit. Selain itu, diperlukan pula pengujian keamanan dan iritasi kulit untuk memastikan keamanan penggunaan dalam jangka panjang.
Dengan demikian, penelitian ini dapat dipandang sebagai tahap awal pengembangan teknologi formulasi krim kolagen berbasis liposom, bukan sebagai klaim bahwa produk tersebut sudah siap digunakan sebagai terapi atau kosmetik komersial.
Dari penelitian mahasiswa menuju inovasi farmasi
Penelitian Alya’ Ayu Majidah menunjukkan bagaimana ilmu farmasi dapat menggabungkan bahan aktif, teknologi nanovesikel, dan sistem sediaan topikal untuk menghasilkan formulasi yang lebih terarah.
Ke depan, pengembangan formulasi semacam ini masih membutuhkan serangkaian penelitian lanjutan, mulai dari pengujian keamanan, penetrasi kulit, pelepasan bahan aktif, hingga pengujian efektivitas biologis. Jika seluruh tahapan tersebut dapat dibuktikan secara ilmiah, teknologi liposom kolagen berpotensi menjadi salah satu pendekatan menarik dalam pengembangan sediaan topikal berbasis nanoteknologi.
Penelitian ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi di bidang farmasi tidak berhenti pada menemukan bahan yang berpotensi bermanfaat, tetapi juga pada bagaimana teknologi formulasi dapat membantu mengubah bahan tersebut menjadi suatu sistem penghantaran yang stabil, terukur, dan memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut.